“KRITISME IMMANUEL KANT”
MATA KULIAH FILSAFAT
ILMU
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA
KRISTEN (S2)
DOSEN : PROF. Dr. TONICH UDA,
M.Ed
Oleh
: MONIKAE
NIM 224241045
INSTITUT AGAMA KRISTEN NEGERI
(IAKN)
PALANGKA RAYA - KALIMANTAN
TENGAH 2023
Halaman
Judul.......................................................................................................... 1
Daftar
Isi............................................................................................................... 2
Kata
Pengantar………………………………………………………………………………...3
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.................................................................................................................. 3
B.
Masalah...……………………………………………..............................................5
BAB II Pembahasan
A.
Kritik utama Kant terhadap
konsep-konsep filosofis tradisional…………………..7
B.
Pertimbangan kritis dan
filosofi Immanuel Kant ……………………………..…..8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………………………………………...10
B. Saran………………………….………………………………………………………10
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………….11
Kata Pengantar
Immanual
Kant dalam dunia filsafat memiliki peran penting sehingga jika pengkaji ilmu
filsafat mendengar nama tokoh yang satu ini terdengar begitu elegan dan
berkesan. Hal ini dikarenakan konsep filsafat moralnya memberi banyak
kemungkinan untuk kritik dan pembahasan. Seperti halnya J.B. Schneewind salah
seorang profesor filsafat di New York mengemukakan beberapa alasan mengapa
harus mempelajari filsafat moral melalui pemikiran Immanuel Kant. Schneewind
menjelaskan bahwa ada tiga alasan mengapa karya Kant menjadi teks yang penting
bagi para pelajar politik, hukum, ekonomi, dan ilmu sosial lainnya. Yang
pertama, Kant merupakan filosof modern yang memaparkan cara baru dalam memahami
filsafat moral. Hal ini bergantung pada sejarah pemikiran barat yang hadir dan
lama diterima oleh masyarakat Barat di era sebelum Kant berhasil merumuskan
metafisika moral. Tesis utama Kant ialah bahwa manusia merupakan makhluk moral,
dan oleh sebab itu Kant percaya bahwa melalui berbagai pengamatan empiris maka
pendasaran moral dapat dijelaskan secara rasional. Kant mengemukakan salah satu
cara terbaik untuk menganalisis proposisi moralitas manusia melalui pengamatan
atas detail formula yang menyusun moralitas. Alasan kedua ialah karena Kant
telah menuliskan magnum opus-nya yang berjudul The Groundwork of Metaphysics of
Moral, Critique of Practical Reason, serta Critique of Pure Reason yang
merupakan karya filsafat metafisika moral terbesar di zaman modern. Di dalam
ketiga buku tersebut, Kant memaparkan berbagai kriteria filsafat moral dan
bagaimana moralitas dapat diketahui oleh manusia melalui rasionya. Karya-karya
di atas menjadi rujukan karya-karya besar dari berbagai filosof dan peneliti di
bidang ilmu lainnya. Alasan ketiga dari Schneewind ialah bahwa karya Kant
merupakan karya revolusioner pada zamannya. Kant berusaha mengubah konsepsi
moral yang hadir selama masanya, dan juga pada masa sebelumnya. Demikian pula,
Kant memberi pengertian tegas mengenai bagaimana rasio manusia bekerja,
utamanya dalam pilihan moral. Moralitas dalam filsafat Kant telah jauh dari
unsur-unsur teologis dan dogmatis.
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang
Immanuel
Kant adalah seorang filsuf yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana.
Ia lahir di Konigsberg, Prusia Timur, Jerman, pada tanggal 22 April 1724.
Pemikiran dan karya-karyanya membawa revolusi yang begitu kuat hingga saat ini.[1] Ayahnya adalah seorang
pembuat pelana kuda, sedangkan ibunya yang memang rendah dalam pendidikan
formal namun memiliki kecerdasan yang amat luar biasa. Kant dibesarkan dalam
suasana Pietist yang ketat, dan sejak usia delapan tahun hingga enam belas
tahun ia belajar di sekolah Pietist lokal. Di sinilah kecerdasannya yang luar
biasa dan kehausannya untuk terus-menerus belajar mulai terganggu akibat
terlalu banyaknya nasihat-nasihat religius yang ia dengar. Kebenciannya atas
ajaran resmi agama tetap tinggal dalam dirinya sampai akhir hidupnya (saat ia
dewasa, Kant tidak pernah datang ke gereja). Meskipun demikian, banyak sekali
ajaran Pietist yang tetap mewarnai hidup Kant, terutama yang berkaitan cara
hidup sederhana yang berdasarkan prinsip moral yang ketat. Pada usia 18 tahun
Kant memasuki Universitas Konigsberd sebagai mahasiswa teologi. Pada mulanya
Kant mendapatkan bantuan keuangan dari gereja Pietist lokal untuk kuliahnya,
tetapi ia juga berusaha untuk membiayainya sendiri dengan memberikan les kepada
teman-teman kuliahnya. Dengan segera Kant menjadi sangat bosan pada teologi dan
mulai menunjukkan minatnya yang besar pada matematika dan fisika. [2] Pada tahun 1746, ketika
Kant berusia 22 tahun, ayahnya meninggal dunia. Kant bersama lima orang adik
perempuannya ditinggalkan dalam keadaan miskin.Adik perempuannya yang terkecil
dipungut anak oleh sebuah keluarga Pietist, sedangkan adik-adiknya yang lain
bekerja sebagai pelayan. Kant melamar bekerja di sebuah sekolah lokal, tapi
lamarannya ditolak, hingga ia akhirnya terpaksa meninggalkan bangku kuliah
sebelum sempat meraih gelar sarjana. Selama sembilan tahun berikutnya, Kant
membiayai dirinya sendiri dengan memberikan les pada keluargakeluarga kaya di
sekitar wilayah pedesaan.[3] Kant bangkit kembali dan
sukses meraih gelar doctor Pada tahun 1755, ketika berusia 31 tahun, Kant
berhasil meraih gelar sarjana dari Universitas Konigsberg berkat kebaikan hati
seorang dermawan Pietist. Di usia tersebut bisa dikatakan terlambat untuk
mendapatkan gelar kesarjanaan, dan seperti halnya yang akan kita lihat, Kant
memang termasuk filsuf yang perkembangannya terlambat. Setelah mendapatkan
gelarnya, Kant memperoleh jabatan di universitas sebagai seorang privatdozent
(dosen yunior). Jabatan ini dipegangnya selama lima belas tahun, sebuah jabatan
akademis yang tidak mengenal bayaran yang pantas. Kant memberikan kuliah dalam
bidang matematika dan fisika, serta menerbitkan sejumlah risalah dalam berbagai
persoalan ilmu pengetahuan. Selain itu, Kant juga mulai memberikan
kuliah-kuliah dalam bidang filsafat. Dari caranya berbicara, orang segera melek
betapa Kant telah melakukan perjalanan yang begitu jauh melalui wilayah-wilayah
etika dan epistimologi yang penuh bahaya, bahkan melampaui Utima Thule (jarak
terjauh) logika, hingga memasuki wilayah yang begitu jauh dari peradaban
seperti metafisika. Selama sebelas tahun Kant tidak mempublikasikan apa pun,
namun ia tetap tekun menggarap filsafatnya. Selama itu pula ia menjalani
kehidupan yang betulbetul sangat teratur. Keteratuan inilah yang membuat Kant menjadi
sebuah legenda. Seperti yang diungkapkan oleh Heine, “Bangun pagi, minum kopi,
menulis, memberikan kuliah, makan malam, jalan-jalan sore adalah kegiatan Kant
yang masing-masing mempunyai jadwalnya sendiri. Dengan jaket abu-abu dan
tongkat di tangannya, Immanuel Kant muncul dari balik pintu rumahnya dan berjalan
ke arah sebuah jalan setapak yang dihiasi pohon-pohon linden (sejenis pohon
dari genus Tilia). Inilah yang disebut dengan “The Philosopher’s Walk”, dan
semua orang tahu persis bahwa saat itu jarum jam menunjukkan angka setengah
empat tepat. Ia selalu menggunakan waktu tersebut untuk berjalan-jalan di musim
apa pun. Ketika cuacanya sedang mendung, maka pelayannya yang tua, Lampe, akan
tampak berjalan di belakang Kant dengan mengempit payung, sebagai sebuah
lambing kebijaksanaan”.
B. Masalah
Penulis
dipandang perlu membahas biografi bagaimana latar belakang dan juga pemikiran
filsafat dari Immanuel Kant. Pemikiran Kant adalah subjek debat filosofis yang
berkelanjutan, dan ada beragam pandangan tentang isu-isu ini. Saat
mengembangkan makalah kritik terhadap Kant, penting untuk merujuk pada berbagai
interpretasi dan argumen yang ada, dan memberikan analisis yang kritis dan
mendalam terhadap pemikiran Kant.
Masalah
dalam kritik Kant adalah topik yang mendalam dan kompleks dalam filsafat.
Setiap masalah ini telah menjadi subjek perdebatan dan analisis yang ekstensif
dalam literatur filsafat. Penelitian lebih lanjut dan pemahaman mendalam
tentang karya-karya Kant dan respons terhadapnya dari filsuf-filsuf lain akan
membantu memperdalam pemahaman tentang kritikisme Kant.
Bab II Pembahasan
Immanuel
Kant (1724-1804) adalah seorang filsuf Jerman yang sangat berpengaruh dalam
sejarah pemikiran filosofis. Salah satu kontribusi utama Kant terhadap filsafat
adalah kritiknya terhadap metafisika tradisional dan pengembangan epistemologi
dan etika yang baru. Kritik utama Kant dapat dijelaskan dalam dua karyanya yang
paling terkenal: "Kritik Akal Murni" (Kritik der reinen Vernunft) dan
"Kritik Akal Praktis" (Kritik der praktischen Vernunft). "Kritik
der reinen Vernunft" atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai
"Critique of Pure Reason" (Kritik Terhadap Akal Murni). Karya ini
pertama kali diterbitkan pada tahun 1781 dan merupakan salah satu karya paling
penting dalam sejarah filsafat.
Pemikiran
Filsafat Immanuel Kant Filsafat Kant lahir dalam perdebatan dua pandangan besar
pada saat itu, yaitu rasionalisme dan empirisme. Lewat karyanya Kant bermaksud
memeriksa kesahihan pengetahuan secara kritis, bukan dengan pengujian empiris,
melainkan dengan asasasas apriori dalam diri subjek. Kant berpendapat bahwa
rasionalisme dan empirisme harus digabungkan. Rasionalisme adalah paham yang
menyatakan bahwa alam gagasan dan kemampuan manusia mengembangkan potensi
pikirannya merupakan sumber pengetahuan manusia tentang dunia dan isinya, bukan
tradisi-tradisi yang diikuti secara membabi buta. Menurut rasionalisme rasio
adalah faktor utama setiap upaya manusia untuk menemukan pengetahuan yang
benar, tidak palsu atau tidak keliru. Pengetahuan yang benar dan tidak keliru
harus masuk akal dan tidak hanya tampak nyata dalam amatan indrawi. Menurut
pendekatan rasionalisme, pengetahuan datang dari deduksi rasional logis saja.
Ide-ide bawaan memberikan satu-satunya dasar yang kukuh bagi pengetahuan.[4]
Rasionalisme
menurut Kant mempunyai masalah untuk menghubungkan kepastian logisnya dengan
kenyataan. Pernyataan-pernyataan vang dihasilkan oleh rasionalisme menurut Kant
adalah pernyataan analitik. Sedangkan pengetahuan rasionalisme adalah pengetahuan
apriori. Pengetahuan tentang alam dan moralitas menurut rasionalisme berpijak
pada hukum-hukum yang bersifat apriori, yaitu hukum-hukum yang sudah ada
sebelum pengalaman indrawi. Berbeda dari rasionalisme, empirisme ialah paham
yang mengedepankan keyakinan bahwa semua gagasan dan pengetahuan itu hanyalah
bersifat sekunder dan bisa dikatakan benar apabila diawalkan dari pengalaman
indrawi, pemikiran empirisme, yang meyakini dasar kebenaran pengetahuan
merupakan hasil pengamatan indrawi. Paham empirisme berpandangan bahwa semua
pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak ada ide-ide bawaan. Menurut Kant,
empirisme mempunyai masalah untuk membuktikan keniscayaan logis hukum-hukum
pengalaman. Pernyataan paham empirisme merupakan Pernyataan sintetis dan pengetahuan
empirisme adalah pengetahuan aposteriori, yang tumbuh dari pengalaman manusia.
Kant berpendapat bahwa paham rasionalisme dan empirisme memiliki kelemahan
masing-masing, oleh karena itu menurut Kant paham rasionalisme dan empirisme
harus dipadukan. Bagi Kant, Pengetahuan datang dari sintesis antara pengalaman
dan konsep, tanpa indra manusia tidak akan sadar akan obiek apa pun, tanpa
pemahaman manusia tidak akan membentuk pengertian tentangnya. Proses memperoleh
pengetahuan merupakan satu kesatuan yang melibatkan persepsi, imajinasi,
sensibilitas, dan pemahaman berinteraksi.
Dalam
"Critique of Pure Reason," Kant mengembangkan kritiknya terhadap
penggunaan akal manusia dalam memahami realitas. Ia berusaha menjelaskan
bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan mengapa ada batasan pada
pengetahuan tersebut.
A. Kritik utama Kant terhadap
konsep-konsep filosofis tradisional
Berikut
adalah beberapa kritik utama Kant terhadap konsep-konsep filosofis tradisional:
1.
Kritik terhadap Metafisika
Tradisional: Kant mengkritik upaya-upaya metafisika tradisional untuk memahami
realitas yang melampaui batasan pengetahuan manusia. Ia berpendapat bahwa
metafisika tradisional cenderung terjebak dalam konsep-konsep yang tidak dapat
diverifikasi atau dibantah, sehingga tidak memiliki nilai pengetahuan yang
sejati. Kritik Terhadap Metafisika Tradisional Kant berpendapat bahwa upaya
untuk mencapai pengetahuan tentang hal-hal yang bersifat transenden, seperti
Tuhan, jiwa, dan dunia setelah kematian, adalah usaha yang sia-sia. Ia mengklaim
bahwa akal manusia terbatas dan hanya bisa memahami dunia fenomenal (dunia
pengalaman) dan tidak bisa mencapai pengetahuan yang pasti tentang dunia
noumenal (dunia di luar pengalaman).
2.
Kritik Terhadap Rasionalisme
dan Empirisme: Kant berusaha menyatukan elemen-elemen rasionalisme (pemikiran
bahwa pengetahuan berasal dari akal) dan empirisme (pemikiran bahwa pengetahuan
berasal dari pengalaman) dalam apa yang ia sebut sebagai "revolusi
copernican dalam filsafat." Ia mengklaim bahwa pengetahuan adalah hasil
interaksi antara struktur a priori akal dan data pengalaman.
3.
Penggunaan Akal Murni: Kant
membedakan antara dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan a priori
(pengetahuan yang ada sebelum pengalaman) dan pengetahuan a posteriori
(pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman). Ia berpendapat bahwa ada
beberapa pengetahuan yang tidak bergantung pada pengalaman, seperti
konsep-konsep dasar matematika dan ilmu pengetahuan alam. Kritik-kritik Kant
terhadap pemikiran tradisional telah memengaruhi sebagian besar perkembangan
filsafat modern. Karya-karyanya, terutama "Kritik Akal Murni," tetap
menjadi karya yang sangat penting dalam sejarah filsafat, dan pemikirannya
terus menjadi subjek diskusi dan interpretasi oleh para filsuf kontemporer.
4.
Kritik Terhadap Etika: Dalam
"Kritik Akal Praktis," Kant mengembangkan teori etika yang dikenal
sebagai "etika kewajiban" atau "etika deontologis." Ia
menegaskan bahwa tindakan moral didasarkan pada kewajiban universal dan prinsip
moral yang rasional, bukan pada konsekuensi atau niat subjektif. Ini dikenal
dengan formulasi imperatif kategoris, yang mengatakan bahwa kita harus
bertindak hanya sesuai dengan prinsip-prinsip yang dapat dijadikan hukum
universal.
5.
Kritik Terhadap Estetika: Kant
juga membahas estetika dalam karyanya "Kritik Kemampuan Penilaian"
(Kritik der Urteilskraft). Ia mengembangkan gagasan tentang "rasa
indah" dan menguraikan pemahaman estetika sebagai bentuk penilaian yang
bersifat subjektif namun universal.
6.
Kritik Terhadap Ilmu
Pengetahuan: Kant mencoba membuktikan bahwa pengetahuan ilmiah, khususnya dalam
bidang fisika, memiliki dasar-dasar epistemologis yang kuat. Ia mengembangkan
konsep "struktur sintetis a priori" untuk menjelaskan bagaimana kita
memperoleh pengetahuan tentang fenomena alam.
B. Pertimbangan kritis dan
filosofi Immanuel Kant
Immanuel Kant (1724-1804) termasuk dalam filsafat Duitse periode van
de Verlichting dan dengan kata lain ia juga termasuk dalam filsafat barat. Zijn
werk omvat een berkembang biak scala aan onderwerpen, maar zijn kritische
filosofie, dengan nama zijn "Kritiek van de zuivere rede" (Kritik der
reinen Vernunft) dan "Kritiek van de praktische rede" (Kritik der
praktischen Vernunft), zijn wellicht zijn meest bekende dalam pekerjaan yang
tidak sah. Ini adalah beberapa pertimbangan kritis dan diskusi yang sesuai dengan
filosofi sistem Immanuel Kant:
1.
Complexiteit en Moeilijkheid:
Filosofi Kant didasarkan pada zijn complexiteit en moeilijkheidsgraad. De
"Kritiek van de zuivere rede" semua adalah een diepgaand werk dat de
aard van kennis, ervaring en de relatie tussen het subject en object
onderzoekt. Banyak kritik mengenai hal ini yang mungkin membuat ide menjadi
sia-sia.
2.
Kennis A Priori dan Idealisme
Transendental: Kant memperkenalkan konsep dari kennis apriori, kennis die niet
afhankelijk adalah van ervaring maar ingebouwd is in de structuur van de geest.
Ini juga merupakan idealisme transendental untuk itu, perlu diingat bahwa kita
semua berada di alam yang fenomenal (kita akan mati di masa depan), bukan di
dunia yang kita kenal (kita akan mati di sana). Ini telah lama menjadi
perdebatan dan kritik mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan.
3.
Kategorisasi Imperatif Kant:
Kant menggunakan teori ethische dari kategori imperatief, yang berarti bahwa
menangani lebih banyak hal yang adil juga merupakan hal yang basah di seluruh
dunia. Ada banyak kritik yang diberikan kepada saya mengenai masalah yang
terkait dengan sistem etis ini, karena mereka mungkin ingin menentukan lebih
lanjut tentang leiden.
4.
Estetika Transendental: Kant
juga mengembangkan estetika transendental, di mana ia menjelaskan bagaimana
akal manusia mengorganisasi pengalaman sensori melalui kategori-kategori konsep
tertentu, seperti ruang dan waktu. Estetika: Dalam zijn "Kritiek van het
oordeelsvermogen" behandelt Kant esthetica en het schone. Ide-ide saya
tentang estetika suatu hari sudah banyak terlibat dalam teori sastra
tradisional, tetapi mereka juga mengkritik banyak hal darinya dalam dua kali
perjalanan.
5.
Opvattingen Kant atas Tuhan en
Religie: Kant juga telah mempertimbangkan opvattingen atas religie en de
relatie tussen rede en geloof. Zijn poging om religie te verzoenen met de rede
heeft geleid tot perdebatan en kritik, vooral vanuit theologische hoek.
Banyak kata-kata filosofis Kant yang sangat menakjubkan ketika
dikritisi karena sangat kompleks. Ide-ide kami di masa lalu melibatkan banyak
orang dengan beragam teknik filosofi dan pemahaman, dan pekerjaan kami dengan
kata-kata yang sangat intensif dilakukan dan dijabarkan dalam filosofi yang
benar.
6.
Pembedaan Antara Fenomena dan
Noumena: Kant membedakan antara fenomena (realitas yang dapat diakses oleh
pengalaman manusia) dan noumena (realitas yang ada di luar pengalaman manusia).
Ia berpendapat bahwa kita hanya dapat memiliki pengetahuan tentang fenomena,
sedangkan noumena tetap menjadi misteri yang tidak dapat dijangkau oleh akal
manusia.
BAB III Penutup
A. Kesimpulan
Immanuel Kant adalah seorang filsuf yang terlahir dari keluarga yang
sangat sederhana. Ia lahir di Konigsberg, Prusia Timur, Jerman, pada tanggal 22
April 1724. Pemikiran dan karya-karyanya membawa revolusi yang begitu kuat
hingga saat ini. Pemikiran filsafat Immanual Kant (kritisisme) mencakup: aliran
kritisme, kritik atas rasio murni, pengetahuan pada taraf indra, pengetahuan
pada taraf rasio dan kritik atas rasio praktis. Romantisme hadir pada akhir
abad ke-18 di Eropa Barat sedangkan istilah penggunaan kata romantisme pertama
kali digunakan di negara Jerman pada akhir tahun 1700 oleh para kritikus August
dan Friedrich Schlegal yang menulis buku kritik berjudul Romantische Poesie
(Puisi Romantik). Sejarah romantisme dipengarahui oleh datangnya revoslusi
industri yang mulai meninggalkan kealamian dunia destruktif 10 terhadap
lingkungan. Banyak seniman yang menolak praktik-praktik industrialisasi yang
kurang memperhatikan dampak negatif terhadap alam. Dalam kritikannya Rousseau
berpendapat bahwa manusia modern adalah manusia rasional, manusia rasional
pasti positivistic dan manusia positivistic hanya mempercayai segala sesuatu
yang bisa diobservasi secara empiris dengan pancaindera. Faktor-faktor
non-materil berupa perasaan dan emosi mengalami pengikisan yang berakibat
manusia seolah-olah hanya bergerak menurut rasionya saja.
Kritik Immanuel Kant terhadap penggunaan akal manusia dan upaya
untuk memahami realitas memiliki dampak yang sangat besar dalam sejarah
filsafat. Karyanya ini membuka jalan bagi pemikiran-pemikiran filsafat
selanjutnya, termasuk pemikiran-pemikiran tentang epistemologi (teori
pengetahuan), etika, dan metafisika. Karya "Critique of Pure Reason"
tetap menjadi bacaan yang penting bagi mahasiswa filsafat dan peneliti hingga
saat ini.
B. Saran
Saat
menulis makalah kritis tentang Immanuel Kant, penting untuk menjaga kejelasan,
argumen yang kuat, dan tata bahasa yang baik. Penulis memerlukan buku-buku artikel
ilmiah, jurnal untuk memberikan perspektif sendiri dengan dukungan dari
literatur yang relevan.
DAFTAR PUSTAKA
Juhaya
S. Praja, Aliran Filsafat Dan Etika (Bandung: Yayasan Piara, 1997).
Mudji
Sutrisno, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 1992)
M.
Amin Abdhullah, Antara Al-Ghazali Dan Kant, ed. Mizan (Bandung, 2002).
Bagong
Suyanto, Filsafat Sosial (Malang: Aditya Media Publishing, 2013).
[1]
Juhaya S. Praja, Aliran Filsafat Dan Etika (Bandung: Yayasan Piara, 1997).
[2]
Mudji Sutrisno, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 1992)
[3] M.
Amin Abdhullah, Antara Al-Ghazali Dan Kant, ed. Mizan (Bandung, 2002).
[4]
Bagong Suyanto, Filsafat Sosial (Malang: Aditya Media Publishing, 2013).

0 komentar:
Posting Komentar