Kamis, 12 Oktober 2023

 

     

“KRITISME IMMANUEL KANT”

MATA KULIAH FILSAFAT ILMU

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (S2)

DOSEN : PROF. Dr. TONICH UDA, M.Ed

 

 



 

 Oleh : MONIKAE

NIM 224241045

 

INSTITUT AGAMA KRISTEN NEGERI (IAKN) 

PALANGKA RAYA - KALIMANTAN TENGAH 2023

 

 

 

 

Halaman Judul.......................................................................................................... 1

Daftar Isi............................................................................................................... 2

Kata Pengantar………………………………………………………………………………...3

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang.................................................................................................................. 3

B.    Masalah...……………………………………………..............................................5

 

BAB II Pembahasan

A.    Kritik utama Kant terhadap konsep-konsep filosofis tradisional…………………..7

B.    Pertimbangan kritis dan filosofi Immanuel Kant ……………………………..…..8

 

BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan…………………………………………………………………………...10

B.    Saran………………………….………………………………………………………10

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………….11

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata Pengantar

Immanual Kant dalam dunia filsafat memiliki peran penting sehingga jika pengkaji ilmu filsafat mendengar nama tokoh yang satu ini terdengar begitu elegan dan berkesan. Hal ini dikarenakan konsep filsafat moralnya memberi banyak kemungkinan untuk kritik dan pembahasan. Seperti halnya J.B. Schneewind salah seorang profesor filsafat di New York mengemukakan beberapa alasan mengapa harus mempelajari filsafat moral melalui pemikiran Immanuel Kant. Schneewind menjelaskan bahwa ada tiga alasan mengapa karya Kant menjadi teks yang penting bagi para pelajar politik, hukum, ekonomi, dan ilmu sosial lainnya. Yang pertama, Kant merupakan filosof modern yang memaparkan cara baru dalam memahami filsafat moral. Hal ini bergantung pada sejarah pemikiran barat yang hadir dan lama diterima oleh masyarakat Barat di era sebelum Kant berhasil merumuskan metafisika moral. Tesis utama Kant ialah bahwa manusia merupakan makhluk moral, dan oleh sebab itu Kant percaya bahwa melalui berbagai pengamatan empiris maka pendasaran moral dapat dijelaskan secara rasional. Kant mengemukakan salah satu cara terbaik untuk menganalisis proposisi moralitas manusia melalui pengamatan atas detail formula yang menyusun moralitas. Alasan kedua ialah karena Kant telah menuliskan magnum opus-nya yang berjudul The Groundwork of Metaphysics of Moral, Critique of Practical Reason, serta Critique of Pure Reason yang merupakan karya filsafat metafisika moral terbesar di zaman modern. Di dalam ketiga buku tersebut, Kant memaparkan berbagai kriteria filsafat moral dan bagaimana moralitas dapat diketahui oleh manusia melalui rasionya. Karya-karya di atas menjadi rujukan karya-karya besar dari berbagai filosof dan peneliti di bidang ilmu lainnya. Alasan ketiga dari Schneewind ialah bahwa karya Kant merupakan karya revolusioner pada zamannya. Kant berusaha mengubah konsepsi moral yang hadir selama masanya, dan juga pada masa sebelumnya. Demikian pula, Kant memberi pengertian tegas mengenai bagaimana rasio manusia bekerja, utamanya dalam pilihan moral. Moralitas dalam filsafat Kant telah jauh dari unsur-unsur teologis dan dogmatis.

Bab I Pendahuluan

A.    Latar Belakang

Immanuel Kant adalah seorang filsuf yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ia lahir di Konigsberg, Prusia Timur, Jerman, pada tanggal 22 April 1724. Pemikiran dan karya-karyanya membawa revolusi yang begitu kuat hingga saat ini.[1] Ayahnya adalah seorang pembuat pelana kuda, sedangkan ibunya yang memang rendah dalam pendidikan formal namun memiliki kecerdasan yang amat luar biasa. Kant dibesarkan dalam suasana Pietist yang ketat, dan sejak usia delapan tahun hingga enam belas tahun ia belajar di sekolah Pietist lokal. Di sinilah kecerdasannya yang luar biasa dan kehausannya untuk terus-menerus belajar mulai terganggu akibat terlalu banyaknya nasihat-nasihat religius yang ia dengar. Kebenciannya atas ajaran resmi agama tetap tinggal dalam dirinya sampai akhir hidupnya (saat ia dewasa, Kant tidak pernah datang ke gereja). Meskipun demikian, banyak sekali ajaran Pietist yang tetap mewarnai hidup Kant, terutama yang berkaitan cara hidup sederhana yang berdasarkan prinsip moral yang ketat. Pada usia 18 tahun Kant memasuki Universitas Konigsberd sebagai mahasiswa teologi. Pada mulanya Kant mendapatkan bantuan keuangan dari gereja Pietist lokal untuk kuliahnya, tetapi ia juga berusaha untuk membiayainya sendiri dengan memberikan les kepada teman-teman kuliahnya. Dengan segera Kant menjadi sangat bosan pada teologi dan mulai menunjukkan minatnya yang besar pada matematika dan fisika. [2] Pada tahun 1746, ketika Kant berusia 22 tahun, ayahnya meninggal dunia. Kant bersama lima orang adik perempuannya ditinggalkan dalam keadaan miskin.Adik perempuannya yang terkecil dipungut anak oleh sebuah keluarga Pietist, sedangkan adik-adiknya yang lain bekerja sebagai pelayan. Kant melamar bekerja di sebuah sekolah lokal, tapi lamarannya ditolak, hingga ia akhirnya terpaksa meninggalkan bangku kuliah sebelum sempat meraih gelar sarjana. Selama sembilan tahun berikutnya, Kant membiayai dirinya sendiri dengan memberikan les pada keluargakeluarga kaya di sekitar wilayah pedesaan.[3] Kant bangkit kembali dan sukses meraih gelar doctor Pada tahun 1755, ketika berusia 31 tahun, Kant berhasil meraih gelar sarjana dari Universitas Konigsberg berkat kebaikan hati seorang dermawan Pietist. Di usia tersebut bisa dikatakan terlambat untuk mendapatkan gelar kesarjanaan, dan seperti halnya yang akan kita lihat, Kant memang termasuk filsuf yang perkembangannya terlambat. Setelah mendapatkan gelarnya, Kant memperoleh jabatan di universitas sebagai seorang privatdozent (dosen yunior). Jabatan ini dipegangnya selama lima belas tahun, sebuah jabatan akademis yang tidak mengenal bayaran yang pantas. Kant memberikan kuliah dalam bidang matematika dan fisika, serta menerbitkan sejumlah risalah dalam berbagai persoalan ilmu pengetahuan. Selain itu, Kant juga mulai memberikan kuliah-kuliah dalam bidang filsafat. Dari caranya berbicara, orang segera melek betapa Kant telah melakukan perjalanan yang begitu jauh melalui wilayah-wilayah etika dan epistimologi yang penuh bahaya, bahkan melampaui Utima Thule (jarak terjauh) logika, hingga memasuki wilayah yang begitu jauh dari peradaban seperti metafisika. Selama sebelas tahun Kant tidak mempublikasikan apa pun, namun ia tetap tekun menggarap filsafatnya. Selama itu pula ia menjalani kehidupan yang betulbetul sangat teratur. Keteratuan inilah yang membuat Kant menjadi sebuah legenda. Seperti yang diungkapkan oleh Heine, “Bangun pagi, minum kopi, menulis, memberikan kuliah, makan malam, jalan-jalan sore adalah kegiatan Kant yang masing-masing mempunyai jadwalnya sendiri. Dengan jaket abu-abu dan tongkat di tangannya, Immanuel Kant muncul dari balik pintu rumahnya dan berjalan ke arah sebuah jalan setapak yang dihiasi pohon-pohon linden (sejenis pohon dari genus Tilia). Inilah yang disebut dengan “The Philosopher’s Walk”, dan semua orang tahu persis bahwa saat itu jarum jam menunjukkan angka setengah empat tepat. Ia selalu menggunakan waktu tersebut untuk berjalan-jalan di musim apa pun. Ketika cuacanya sedang mendung, maka pelayannya yang tua, Lampe, akan tampak berjalan di belakang Kant dengan mengempit payung, sebagai sebuah lambing kebijaksanaan”.

B.    Masalah

Penulis dipandang perlu membahas biografi bagaimana latar belakang dan juga pemikiran filsafat dari Immanuel Kant. Pemikiran Kant adalah subjek debat filosofis yang berkelanjutan, dan ada beragam pandangan tentang isu-isu ini. Saat mengembangkan makalah kritik terhadap Kant, penting untuk merujuk pada berbagai interpretasi dan argumen yang ada, dan memberikan analisis yang kritis dan mendalam terhadap pemikiran Kant.

Masalah dalam kritik Kant adalah topik yang mendalam dan kompleks dalam filsafat. Setiap masalah ini telah menjadi subjek perdebatan dan analisis yang ekstensif dalam literatur filsafat. Penelitian lebih lanjut dan pemahaman mendalam tentang karya-karya Kant dan respons terhadapnya dari filsuf-filsuf lain akan membantu memperdalam pemahaman tentang kritikisme Kant.

 

 

 

 

 

 

 

Bab II Pembahasan

Immanuel Kant (1724-1804) adalah seorang filsuf Jerman yang sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran filosofis. Salah satu kontribusi utama Kant terhadap filsafat adalah kritiknya terhadap metafisika tradisional dan pengembangan epistemologi dan etika yang baru. Kritik utama Kant dapat dijelaskan dalam dua karyanya yang paling terkenal: "Kritik Akal Murni" (Kritik der reinen Vernunft) dan "Kritik Akal Praktis" (Kritik der praktischen Vernunft). "Kritik der reinen Vernunft" atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai "Critique of Pure Reason" (Kritik Terhadap Akal Murni). Karya ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1781 dan merupakan salah satu karya paling penting dalam sejarah filsafat.

Pemikiran Filsafat Immanuel Kant Filsafat Kant lahir dalam perdebatan dua pandangan besar pada saat itu, yaitu rasionalisme dan empirisme. Lewat karyanya Kant bermaksud memeriksa kesahihan pengetahuan secara kritis, bukan dengan pengujian empiris, melainkan dengan asasasas apriori dalam diri subjek. Kant berpendapat bahwa rasionalisme dan empirisme harus digabungkan. Rasionalisme adalah paham yang menyatakan bahwa alam gagasan dan kemampuan manusia mengembangkan potensi pikirannya merupakan sumber pengetahuan manusia tentang dunia dan isinya, bukan tradisi-tradisi yang diikuti secara membabi buta. Menurut rasionalisme rasio adalah faktor utama setiap upaya manusia untuk menemukan pengetahuan yang benar, tidak palsu atau tidak keliru. Pengetahuan yang benar dan tidak keliru harus masuk akal dan tidak hanya tampak nyata dalam amatan indrawi. Menurut pendekatan rasionalisme, pengetahuan datang dari deduksi rasional logis saja. Ide-ide bawaan memberikan satu-satunya dasar yang kukuh bagi pengetahuan.[4]

Rasionalisme menurut Kant mempunyai masalah untuk menghubungkan kepastian logisnya dengan kenyataan. Pernyataan-pernyataan vang dihasilkan oleh rasionalisme menurut Kant adalah pernyataan analitik. Sedangkan pengetahuan rasionalisme adalah pengetahuan apriori. Pengetahuan tentang alam dan moralitas menurut rasionalisme berpijak pada hukum-hukum yang bersifat apriori, yaitu hukum-hukum yang sudah ada sebelum pengalaman indrawi. Berbeda dari rasionalisme, empirisme ialah paham yang mengedepankan keyakinan bahwa semua gagasan dan pengetahuan itu hanyalah bersifat sekunder dan bisa dikatakan benar apabila diawalkan dari pengalaman indrawi, pemikiran empirisme, yang meyakini dasar kebenaran pengetahuan merupakan hasil pengamatan indrawi. Paham empirisme berpandangan bahwa semua pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak ada ide-ide bawaan. Menurut Kant, empirisme mempunyai masalah untuk membuktikan keniscayaan logis hukum-hukum pengalaman. Pernyataan paham empirisme merupakan Pernyataan sintetis dan pengetahuan empirisme adalah pengetahuan aposteriori, yang tumbuh dari pengalaman manusia. Kant berpendapat bahwa paham rasionalisme dan empirisme memiliki kelemahan masing-masing, oleh karena itu menurut Kant paham rasionalisme dan empirisme harus dipadukan. Bagi Kant, Pengetahuan datang dari sintesis antara pengalaman dan konsep, tanpa indra manusia tidak akan sadar akan obiek apa pun, tanpa pemahaman manusia tidak akan membentuk pengertian tentangnya. Proses memperoleh pengetahuan merupakan satu kesatuan yang melibatkan persepsi, imajinasi, sensibilitas, dan pemahaman berinteraksi.

Dalam "Critique of Pure Reason," Kant mengembangkan kritiknya terhadap penggunaan akal manusia dalam memahami realitas. Ia berusaha menjelaskan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan mengapa ada batasan pada pengetahuan tersebut.

A.    Kritik utama Kant terhadap konsep-konsep filosofis tradisional

Berikut adalah beberapa kritik utama Kant terhadap konsep-konsep filosofis tradisional:

1.     Kritik terhadap Metafisika Tradisional: Kant mengkritik upaya-upaya metafisika tradisional untuk memahami realitas yang melampaui batasan pengetahuan manusia. Ia berpendapat bahwa metafisika tradisional cenderung terjebak dalam konsep-konsep yang tidak dapat diverifikasi atau dibantah, sehingga tidak memiliki nilai pengetahuan yang sejati. Kritik Terhadap Metafisika Tradisional Kant berpendapat bahwa upaya untuk mencapai pengetahuan tentang hal-hal yang bersifat transenden, seperti Tuhan, jiwa, dan dunia setelah kematian, adalah usaha yang sia-sia. Ia mengklaim bahwa akal manusia terbatas dan hanya bisa memahami dunia fenomenal (dunia pengalaman) dan tidak bisa mencapai pengetahuan yang pasti tentang dunia noumenal (dunia di luar pengalaman).

2.     Kritik Terhadap Rasionalisme dan Empirisme: Kant berusaha menyatukan elemen-elemen rasionalisme (pemikiran bahwa pengetahuan berasal dari akal) dan empirisme (pemikiran bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman) dalam apa yang ia sebut sebagai "revolusi copernican dalam filsafat." Ia mengklaim bahwa pengetahuan adalah hasil interaksi antara struktur a priori akal dan data pengalaman.

3.     Penggunaan Akal Murni: Kant membedakan antara dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan a priori (pengetahuan yang ada sebelum pengalaman) dan pengetahuan a posteriori (pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman). Ia berpendapat bahwa ada beberapa pengetahuan yang tidak bergantung pada pengalaman, seperti konsep-konsep dasar matematika dan ilmu pengetahuan alam. Kritik-kritik Kant terhadap pemikiran tradisional telah memengaruhi sebagian besar perkembangan filsafat modern. Karya-karyanya, terutama "Kritik Akal Murni," tetap menjadi karya yang sangat penting dalam sejarah filsafat, dan pemikirannya terus menjadi subjek diskusi dan interpretasi oleh para filsuf kontemporer.

4.     Kritik Terhadap Etika: Dalam "Kritik Akal Praktis," Kant mengembangkan teori etika yang dikenal sebagai "etika kewajiban" atau "etika deontologis." Ia menegaskan bahwa tindakan moral didasarkan pada kewajiban universal dan prinsip moral yang rasional, bukan pada konsekuensi atau niat subjektif. Ini dikenal dengan formulasi imperatif kategoris, yang mengatakan bahwa kita harus bertindak hanya sesuai dengan prinsip-prinsip yang dapat dijadikan hukum universal.

5.     Kritik Terhadap Estetika: Kant juga membahas estetika dalam karyanya "Kritik Kemampuan Penilaian" (Kritik der Urteilskraft). Ia mengembangkan gagasan tentang "rasa indah" dan menguraikan pemahaman estetika sebagai bentuk penilaian yang bersifat subjektif namun universal.

6.     Kritik Terhadap Ilmu Pengetahuan: Kant mencoba membuktikan bahwa pengetahuan ilmiah, khususnya dalam bidang fisika, memiliki dasar-dasar epistemologis yang kuat. Ia mengembangkan konsep "struktur sintetis a priori" untuk menjelaskan bagaimana kita memperoleh pengetahuan tentang fenomena alam.

 

B.    Pertimbangan kritis dan filosofi Immanuel Kant

Immanuel Kant (1724-1804) termasuk dalam filsafat Duitse periode van de Verlichting dan dengan kata lain ia juga termasuk dalam filsafat barat. Zijn werk omvat een berkembang biak scala aan onderwerpen, maar zijn kritische filosofie, dengan nama zijn "Kritiek van de zuivere rede" (Kritik der reinen Vernunft) dan "Kritiek van de praktische rede" (Kritik der praktischen Vernunft), zijn wellicht zijn meest bekende dalam pekerjaan yang tidak sah. Ini adalah beberapa pertimbangan kritis dan diskusi yang sesuai dengan filosofi sistem Immanuel Kant:

1.     Complexiteit en Moeilijkheid: Filosofi Kant didasarkan pada zijn complexiteit en moeilijkheidsgraad. De "Kritiek van de zuivere rede" semua adalah een diepgaand werk dat de aard van kennis, ervaring en de relatie tussen het subject en object onderzoekt. Banyak kritik mengenai hal ini yang mungkin membuat ide menjadi sia-sia.

2.     Kennis A Priori dan Idealisme Transendental: Kant memperkenalkan konsep dari kennis apriori, kennis die niet afhankelijk adalah van ervaring maar ingebouwd is in de structuur van de geest. Ini juga merupakan idealisme transendental untuk itu, perlu diingat bahwa kita semua berada di alam yang fenomenal (kita akan mati di masa depan), bukan di dunia yang kita kenal (kita akan mati di sana). Ini telah lama menjadi perdebatan dan kritik mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan.

3.     Kategorisasi Imperatif Kant: Kant menggunakan teori ethische dari kategori imperatief, yang berarti bahwa menangani lebih banyak hal yang adil juga merupakan hal yang basah di seluruh dunia. Ada banyak kritik yang diberikan kepada saya mengenai masalah yang terkait dengan sistem etis ini, karena mereka mungkin ingin menentukan lebih lanjut tentang leiden.

4.     Estetika Transendental: Kant juga mengembangkan estetika transendental, di mana ia menjelaskan bagaimana akal manusia mengorganisasi pengalaman sensori melalui kategori-kategori konsep tertentu, seperti ruang dan waktu. Estetika: Dalam zijn "Kritiek van het oordeelsvermogen" behandelt Kant esthetica en het schone. Ide-ide saya tentang estetika suatu hari sudah banyak terlibat dalam teori sastra tradisional, tetapi mereka juga mengkritik banyak hal darinya dalam dua kali perjalanan.

5.     Opvattingen Kant atas Tuhan en Religie: Kant juga telah mempertimbangkan opvattingen atas religie en de relatie tussen rede en geloof. Zijn poging om religie te verzoenen met de rede heeft geleid tot perdebatan en kritik, vooral vanuit theologische hoek.

Banyak kata-kata filosofis Kant yang sangat menakjubkan ketika dikritisi karena sangat kompleks. Ide-ide kami di masa lalu melibatkan banyak orang dengan beragam teknik filosofi dan pemahaman, dan pekerjaan kami dengan kata-kata yang sangat intensif dilakukan dan dijabarkan dalam filosofi yang benar.

6.     Pembedaan Antara Fenomena dan Noumena: Kant membedakan antara fenomena (realitas yang dapat diakses oleh pengalaman manusia) dan noumena (realitas yang ada di luar pengalaman manusia). Ia berpendapat bahwa kita hanya dapat memiliki pengetahuan tentang fenomena, sedangkan noumena tetap menjadi misteri yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia.

 

BAB III Penutup

A.    Kesimpulan

Immanuel Kant adalah seorang filsuf yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ia lahir di Konigsberg, Prusia Timur, Jerman, pada tanggal 22 April 1724. Pemikiran dan karya-karyanya membawa revolusi yang begitu kuat hingga saat ini. Pemikiran filsafat Immanual Kant (kritisisme) mencakup: aliran kritisme, kritik atas rasio murni, pengetahuan pada taraf indra, pengetahuan pada taraf rasio dan kritik atas rasio praktis. Romantisme hadir pada akhir abad ke-18 di Eropa Barat sedangkan istilah penggunaan kata romantisme pertama kali digunakan di negara Jerman pada akhir tahun 1700 oleh para kritikus August dan Friedrich Schlegal yang menulis buku kritik berjudul Romantische Poesie (Puisi Romantik). Sejarah romantisme dipengarahui oleh datangnya revoslusi industri yang mulai meninggalkan kealamian dunia destruktif 10 terhadap lingkungan. Banyak seniman yang menolak praktik-praktik industrialisasi yang kurang memperhatikan dampak negatif terhadap alam. Dalam kritikannya Rousseau berpendapat bahwa manusia modern adalah manusia rasional, manusia rasional pasti positivistic dan manusia positivistic hanya mempercayai segala sesuatu yang bisa diobservasi secara empiris dengan pancaindera. Faktor-faktor non-materil berupa perasaan dan emosi mengalami pengikisan yang berakibat manusia seolah-olah hanya bergerak menurut rasionya saja.

Kritik Immanuel Kant terhadap penggunaan akal manusia dan upaya untuk memahami realitas memiliki dampak yang sangat besar dalam sejarah filsafat. Karyanya ini membuka jalan bagi pemikiran-pemikiran filsafat selanjutnya, termasuk pemikiran-pemikiran tentang epistemologi (teori pengetahuan), etika, dan metafisika. Karya "Critique of Pure Reason" tetap menjadi bacaan yang penting bagi mahasiswa filsafat dan peneliti hingga saat ini.

B.    Saran

Saat menulis makalah kritis tentang Immanuel Kant, penting untuk menjaga kejelasan, argumen yang kuat, dan tata bahasa yang baik. Penulis memerlukan buku-buku artikel ilmiah, jurnal untuk memberikan perspektif sendiri dengan dukungan dari literatur yang relevan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Juhaya S. Praja, Aliran Filsafat Dan Etika (Bandung: Yayasan Piara, 1997).

Mudji Sutrisno, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 1992)

M. Amin Abdhullah, Antara Al-Ghazali Dan Kant, ed. Mizan (Bandung, 2002).

Bagong Suyanto, Filsafat Sosial (Malang: Aditya Media Publishing, 2013).

 



[1] Juhaya S. Praja, Aliran Filsafat Dan Etika (Bandung: Yayasan Piara, 1997).

[2] Mudji Sutrisno, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 1992)

[3] M. Amin Abdhullah, Antara Al-Ghazali Dan Kant, ed. Mizan (Bandung, 2002).

[4] Bagong Suyanto, Filsafat Sosial (Malang: Aditya Media Publishing, 2013).

monikae

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar